24 Feb 2012

Menelisik Murid "SUPER" di Kelas

Paling aktif (sampai-sampai membuat guru kesal terhadap celotehan yang ia keluarkan), memiliki sikap kepemimpinan yang tinggi (namun, banyak juga yang berpendapat bahwa teman di kelas menganggapnya “sok ngatur”), eksis (bak bintang film, ada saja pakaian unik yang ia kenakan sebagai penghias seragamnya), master-nya kelas (sampai-sampai ketua kelas kalah suara dengannya), semua murid sesekolah dan seluruh guru mengenalnya (mungkin karena perilakunya yang “unik” itu).
Sebut saja namanya AK. Ia bersekolah di salah satu SMA yang cukup terkenal di Jakarta. Ada saja perilaku-perilaku yang kadang membuat guru “kewalahan” dalam menanganinya. Misalkan saja, saat seluruh murid sedang “anteng-antengnya” memperhatikan guru, AK, dengan ide kreatifnya pun membuat bahan becandaan agar dirinya tidak merasa bosan, meskipun hal tersebut cukup mengganggu proses pembelajaran di dalam kelas. Suatu hari pernah AK tidak masuk karena sakit, anehnya banyak guru dan murid yang lega dan tenang dalam belajar. Tapi, tidak sedikit yang kangen akan kehadiran AK terlebih bila guru yang mengajar sangat membosankan.
Buruknya, sikap AK yang terlalu pede dan terlampau cuek atas perilaku yang telah dilakukannya juga dicontoh oleh beberapa teman di kelasnya. Memang wajar, masa SMA memang masa labil bagi para murid. Dalam mencari jati dri, para murid kerap mencari sosok yang memiliki karakteristik kuat untuk ditiru. Ini merupakan salah satu kabar buruk bagi guru, karena tidak sedikit teman-teman AK di kelas, yang mencontoh perilakunya.
Pernah suatu hari, wali kelas AK keluar kelas setelah usai mengajar dalam keadaan menangis karena sakit hati atas perlakuan murid-muridnya yang terkesan tidak menghormati dan menghargai pengajaran yang diberikannya. Dan memang, AK lah “biang kerok” utamanya yang memancing teman-teman di kelas untuk ikut menyoraki wali kelas tersebut. Wali kelas pun menjad kewalahan dalam menangani seisi kelas, yang hampir menyerupai “neraka dunia” baginya.
Tidak hanya itu, guru lain pun pernah terpancing mengeluarkan kata kasar kepada AK karena tidak kuat dengan perilakunya. Ini terjadi karena saat guru tersebut sedang menerangkan pelajaran matematika, AK malah asik “ngobrol” dengan temannya. Guru itu pun mengetes pemahaman AK terhadap materi yang baru diberikannya. Spontan, AK malah berkata, “ngga ah males.” Dan kata-kata tersebut langsung membuat darah si guru mencapai titik didih sehingga keluarlah kata kasar kepada AK.
“Waw”, sungguh unik si AK ini. Guru BK pun sampai kewalahan menanganinya karena tidak jarang Guru BK tersebut diperlakukan tidak menyenangkan oleh AK, sama seperti perlakuan kepada guru lainnya. Dan sampai AK lulus SMA, tidak ada guru yang mampu membuatnya luluh, entah karena strategi guru yang kurang baik, ataukah karena memang AK memiliki sikap yang “bebel”.
Sebenarnya, bila ditelisik, AK memiliki kompetensi yang unggul bila diasah dengan cara yang baik dan benar. Ia pandai nge-band, memainkan berbagai alat musik. Gaya nyanyi ala rock n’ roll nya pun juga total. Sepertinya murid ini bakat untuk menjadi seorang disk jokey, pemain music, dan penyanyi. Dalam bidang kinestetik, ia pun terbilang “jago” bila dihadapkan pada seluruh jenis olahraga. Tidak ada olahraga yang tidak bisa ia lakukan meskipun badannya kurus. Ia pun mampu menjadi seorang manajer yang baik karena kemampuannya dalam mengatur organisasi, hanya saja dirinya malas dan belum menemukan lembaga pendidikan yang sesuai untuk mengasah bakatnya.
Berdasarkan pengamatan di atas, menurut saya, sebaiknya orang tua AK disarankan untuk memberikan didikan pada anaknya di lembaga yang sesuai. Baik dengan cara dipindahkan ke lembga pendidikan formal yang sesuai, seperti sekolah atlet, sekolah musik, dan sebagainya, maupun tetap disekolahkan di SMA tempat ia menuntut ilmu, tetapi juga diberikan pendidikan nonformal yang sesuai dengan kompetensinya. Bila guru dan orang tua AK memiliki komunikasi yang baik terhadap pengembangan kompetensi AK, maka sesungguhnya anak seperti AK juga dapat ditangani untuk menjadi orang yang sukses.

0 Comments:

Poskan Komentar